Percakapan dengan Hong Jing-yang yang Mencerahkan Lenghou Tiong

Gambar dari buku "Chinese Landscape Paintings" buku 2“Para Tianglo dari Mo-kau ini sebenarnya semua cerdik dan pandai, mereka telah dapat memecahkan habis-habisan seluruh ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay yang paling tinggi. … mereka terpaksa harus kubunuh semua…. mereka tidak paham bahwa jurus serangan (adalah) mati

Kutipan di atas adalah (parafrasa) bagian akhir-dari-awal percakapan-lanjut antara Hong Jing-yang dengan Lenghou Tiong dalam cerita silat saduran Gan KL atas karya Chin Yung (Jin Yong, 金庸): Hina Kelana. Judul asli buku ini adalah Xiao Au Jianghu (笑傲江湖) yang secara harfiah berarti Mentertawakan Dunia Persilatan (Wikipedia). Di Indonesia saduran karya Chin Yung ini  kalah populer dibanding trilogi rajawali: Pendekar Pemanah Rajawali (射鵰英雄傳), Pendekar Rajawali Sakti (神鵰俠侶), dan Golok Pembunuh Naga atau To Liong To (倚天屠龍記). Mungkin karena akhir cerita yang tidak disangka tapi tidak mengheboh (tokoh antagonis terakhir yang juga ayah dari salah satu tokoh wanita dalam cerita ini mati dengan sebab-sebab alamiah ☺☼).

Dalam kisah ini Lenghou Tiong adalah murid pertama Hoa San yang ugal-ugalan dan sedang dihukum gurunya (yang nantinya menjadi tokoh antagonis dalam cerita) di sebuah goa di salah satu puncak Hoa San. Untuk merenungkan tingkah lakunya dan memperdalam ilmunya. Tapi sebuah lorong tersembunyi dalam gua tersebut, membuatnya putus asa. Di lorong tersebut ia menenukan catatan bagaimana ilmu perguruannya dengan mudah dikalahkan. Kemudian ia bertemu dengan tokoh tua Hoa San yang dilupakan (karena ‘mazhab’ minoritas dalam perguruan Hoa San), Hong Jing-yang, yang mengajarkan manusialah yang menentukan kehebatan sebuah pengetahuan bukan pengetahuan itu sendiri.

pengetahuan, ideologi, pendidikan, ibadah, kebijakan, alat tukar, pahala, buku, benda/hal yang dipegang atau dimiliki, dan kawan-kawannya adalah mati. Yang hidup adalah manusianya, yang ‘menggerakkan’ pemikiran dan benda tersebut: membuatnya menjadi ‘hidup’ atau ‘mayat-hidup’ bersama manusianya.

Kutipan percakapan di bawah ini bagaimana Hong Jing-yang membuka hati Lenghou Tiong, sehingga memandang pengetahuan (ilmu pedang) dengan cara yang baru. Mengetahui dengan segala pengalaman yang dialamani dan pelajaran yang dipelajarinya.

… “Sungguh sayang mereka tidak paham bahwa jurus serangan adalah mati, tapi orang yang memainkan jurus serangan itulah yang hidup. Biarpun kau pandai menghancurkan jurus serangan yang mati, kalau kebentur jurus serangan yang hidup, tentu kaulah yang akan celaka. Jadi yang harus diingat betul-betul adalah kata-kata ‘hidup’ tadi. Belajar serangan harus mempelajari cara hidup, di waktu menyerang harus menyerang secara hidup. Apabila ragu-ragu dan kaku, biarpun kau sudah hafal beribu-ribu jurus serangan lihai juga percuma bila ketemukan lawan tangguh.” …

“Di dalam Ngo-gak-kiam-pay kita memang banyak sekali orang-orang tolol,” kata Hong Jing-yang lebih jauh. “Mereka mengira asalkan dapat belajar sebaik mungkin ajaran-ajaran sang guru dan dengan sendirinya mereka pun akan menjadi jagoan. Padahal, hm, apa artinya kalau cuma pandai bersanjak saja tanpa memahami makna sanjak itu sendiri. Biarpun dapat juga menggubah sebuah dua syair pasaran, tapi kalau tidak timbul dari jiwa seninya yang hidup, apakah dapat menjadi penyair yang besar?”

“Belajar dan menggunakannya secara hidup hanya langkah pertama saja. Harus dapat melaksanakan menyerang tanpa jurus, dengan demikian barulah benar-benar telah mencapai tingkatan yang paling sempurna. Tadi kau bilang jurus demi jurus sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan sehingga musuh tak mampu melawan, ucapanmu ini hanya tepat separuh saja. Mestinya bukan cuma sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan, tapi pada hakikatnya harus tidak jelas jurus apa yang dilancarkan. Kalau menyerang tanpa diketahui jurus serangannya, dengan sendirinya musuh tak dapat lagi memecahkan seranganmu.”

… “Jika demikian tentu musuh juga tokoh kelas wahid, untuk ini harus tergantung kepada kesudahannya, mungkin dia lebih mahir daripada kau atau mungkin juga kau lebih pandai,”

Itulah sekelebatan Hong Jing-yang muncul dalam keseluruhan cerita (ada sedikit lagi dibagian akhir, cuma bentuknya berupa cerita dalam cerita dan bagaimana Lenghou Tiong tidak berhasil menemukan kakek gurunya ini walaupun sudah menjelajahi Hoa San). Dalam karya Chin Yung yang lain, Pendekar Pemanah Rajawali, ada tokoh yang mirip dengan Hong Jing-yang. Bagian-bagian dari cerita Pendekar Pemanah Rajawali membicarakan tokoh ini, tidak pernah terlihat (karena sudah almarhum) tapi mempengaruhi perjalanan tokoh utama (Kwee Cheng): Ong Tiong-yang.

Ciri khas lain dari Chin Yung adalah, sering dalam cerita karyanya dibagian awal belum ada cerita tentang tokoh utama. Hingga 1/4 atau 1/5 cerita baru kita menemukan sang tokohnya. dalam Hina Kelana juga seperti ini. Di bagian awal hingga sepuluhan jilid awal, kita akan diajak mengikuti pengalaman Lim Peng-ci yang pada kira-kira setelah setengah cerita menjadi tokoh antagonis.

Teman-teman di serialsilat.tungning.com (situsnya sudah almarhum), karena sulitnya mendapatkan edisi cetak buku ini, mengetik ulang naskah cerita ini dari buku saduran Gan KL cetakan tahun 1967. Jika tertarik untuk membacanya (atau sekadar memiliki softfile-nya), berikut adalah hasil ketikan tersebut yang sudah di-pdf-kan (pdf versi Kang Zusi): download Hina Kelana [pdf, 3,1 MB].

Imlek 2012, 23012012. 恭喜發財 —dilapalkan Gong-xi fa-cai (dialek Mandarin), Kung hei fat choi (dialek Kanton), Kiong hi huat cai (dialek Hokkian), Kiong hi fat choi (dialek Hakka)—, selamat dan semoga banyak rejeki.

Gambar dari buku “Chinese Landscape Paintings” buku 2. 此图风格承北 宋青绿山水画风。石边水畔,古松虬 曲偃蹇。高士抚琴 动操,知音端坐聆 听,悠然神会。侍童 侧立,神态专注。远 山坡势平缓,渐入 烟霭。图以青绿设 色,坡脚敷以赭石。右上冯子振跋: “……虞伯士过访, 携示赵子昂会琴 图,相与嗟赏……” 图中部右侧有“郭 衢附鉴定”款并跋。

[Copyright (text) 2012 Syarafuddin. Released under Creative Commons Attribution NoCom NoDeriv 3.0]


2 Comments

msugionoJanuary 23rd, 2012 at 17:14

恭喜發財,
Seringkali hidup diidentikkan dengan bernafas semata-mata. Sekalipun hidup perlu bernafat, bernafas hanya salah satu tanda-tanda orang hidup tetapi bukan hidup itu sendiri.

syarafJanuary 24th, 2012 at 06:31

Wah, pakai boso chino! Nggih, 恭喜發財 juga.
Mungkin karena mentalnya terjajah (karena itulah kita dijajah), banyak dari kita yang lebih suka as just a part of machine. Tampilannya keren, ketemu sesama mesin gayanya waduh…. Kadang tutur katanya luar biasa, mendayu-dayu, tapi hei coba diperhatikan itu ba(ha)sa-basi (bisa ditebak, ini pasti answering machine happy ). Nah, kalau ketemu operatornya, apalagi yang punya mesin ….

Leave a comment

Your comment

Current day month ye@r *


one × = 4